Negosiasi Diri
Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Universitas Diponegoro
bukanlah pillihan pertama saya dan tidak termasuk dalam rencana saya
sebelumnya. Jurusan ini merupakan jurusan ketiga yang saya pilih setelah
sosiologi UI di SBMPTN setelah mengalami kegagalan tahap pertama di SNMPTN
dimana saya hanya mempercayai UI sebagai universitas terbaik bagi saya.
Meskipun jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan bukanlah jurusan yang
diharapkan namun pilihan itu bukan sekedar untuk mencari aman. Saya memilihnya
dengan bernegosiasi kepada hati dan pemikiran saya. Mengapa saya memilih ini?
Dan di universitas ini? Baiklah saya akan menjawab pertanyaan simple tersebut.
Awalnya saya ingin menjadi sosiolog sehingga memilih sosiologi UI sebagai
pilihan pertama pada SNMPTN dan entah kenapa setelah gagal di tahap itu
tiba-tiba saya ingin sekali menjadi ekonom atau menteri perekonomian mungkin
kerena saya sangat menyukai ilmu ekonomi sehingga pada tahan kedua yaitu SBMPTN saya
memilih ekonomi islam di pilihan pertama sedangkan sosiologi saya tempatakan di
nomor du serta ekonomi pembangunan undip saya tempatkan di pilihan terakhir. Karena
dengan cara ini kesempatan saya untuk mendapatkan jurusan ekonomi sangat besar.
Kalaupun ekonomi islam dan sosiologi tidak berhasill saya dapatkan tetapi saya
masih bisa mendapatkan ekonomi di undip. Mungkin jalan untuk menjadi ekonom
atau menteri ekonomi ada di sini di Universitas Diponegoro. Meskipun sebelumnya
saya hanya melihat universitas namun ternyata hati saya berkata lain. Jurusan
itu lebih penting. Universitas bukanlah penentu kesuksesan kita namun diri kita
sendirilah yang menentukan. Cita-cita menjadi menteri ekonomi bermula karena
tiba-tiba terlintas memori tentang rasa iba saya terhadap Indonesia yang tak
pernah lepas dari ancaman kemiskinan sehingga saya ingin sekali melepaskan
Indonesia dari ancaman kemiskinan. Intinya bahwa “Aku ingin membangun
Indonesia”.
Setelah mengetahui bahwa saya diterima di Undip dan
dengan UKT yang sangat besar bagi saya dan orang tua saya yang hanya seorang
wiraswasta yang penghasilannya tidak tetap setiap bulannya, saya merasa sedih.
Namun dengan semangat yang tinggi dan niat yang lurus, orang tua saya berjanji
untuk terus mendukung saya dalam mencari ilmu dan mencapai cita-cita saya
bagaimanapun caranya dengan cara yang halal mereka dan saya akan berjuang
bersama-sama. Saya sangat terharu atas semangat dan kerja keras mereka. Saya
bertekad untuk bisa menjadi orang yang sukses untuk membahagiakan mereka dan
berusaha untuk membalas budi mereka meski tak seberapa dibandingkan
pengorbanannya selama ini terhadap anak-anaknya. Orang tua saya menabung setiap
harinya agar bisa membayar uang kuliah anaknya ini. Dan terkadang uang yang
terkumpul masih belum mencukupi untuk membayar UKT saya sehingga sampai harus
meminjam kepada orang lain. Sungguh luar biasa pengorbanan orang tua saya.
Semenjak itu, saya merasa tidak tega melihat orang
tua saya khususnya ayah yang harus tergopoh-gopoh membiayai hidup istri dan
keempat anaknya. Dimana harus mengirim uang kepada ibu saya di kampung untuk
kehidupan sehari-hari baik untuk biaya sekolah dua orang anak, membeli makan,
membayar listrik, membeli susu formula untuk satu anak balitanya dimana satu
kardus susu seharga kurang lebih 60rb untuk 2-3 hari saja, dan kebutuhan
sehari-hari lainnya. Belum lagi beliau harus mengirimi uang kepada saya untuk
menyambung hidup disini baik membayar ukt tiap semester, keperluan kuliah, membayar
tempat tinggal, makan, dan kebutuhan saya lainnya. Oleh karena itu saya
memerlukan beasisiwa yang setidaknya dapat meringankan beban orang tua saya.
Mungkin sekedar meringankan biaya hidup sehari-hari sehingga ayah tidak perlu
lagi mengirimkan uang perbulan untuk biaya hidup saya sehari-hari. Meskipun ayah
akan tetap mengirimkan uang namun tidak seberat dulu dan mungkin uang yang
dikirimkan ayah bisa saya tabung dan saya kumpulkan untuk membantu meringankan
ayah ketika membayar biaya ukt.
Rencana saya ke depan untuk yang pertama saya ingin
memperbaiki perekonomian keluarga, kemudian desa saya, dan selanjutnya dari
membangun desa semoga saya dapat memperbaiki perekonomian Indonesia. Selain
ingin menjadi ekonom atau menteri ekonomi saya juga ingin menjadi seorang
pengusaha dengan melanjutkan dan mengembangkan usaha ayah saya sebagai tukang
martabak. Jika saat ini ayah saya hanya memiliki satu pangkalan dan tidak
memiliki cabang dimanapun, kelak saya akan membangun usaha ayah saya supaya
lebih maju dan memiliki cabang di seluruh Indonesia dan dapat mengurangi pengangguran
dari usaha ini karena semakin banyak cabang maka semakin banyak tenaga kerja
yang dibutuhkan.
By : Khikmah Rizqi Awaliyah (essay KSE (Karya Salemba Empat))
Tidak ada komentar:
Posting Komentar